Satu hal yang juga membuat saya khawatir
adalah masalah bahasa. Saya khawatir bagaimana cara kami berkomunikasi dengan
masyarakat disini. Secara mereka tinggal di daerah pedalaman, terpencil, sangat
jarang berkomunikasi dan bertatapan dengan orang dari luar, sehari-hari mereka
pasti menggunakan bahasa daerah mereka, bagaimana bisa berbahasa Indonesia ?
Saya buta sama sekali bahasa papua. Sebelum KKN saya sempat searching di internet bahasa mereka,
pada akhirnya yang saya tahu hanyalah kata “ sa = saya, su
= sudah, pu = punya” jadi
terpikir “bahasa mereka kok cuma diambil dari suku kata depan aja ?” hehee..
Namun semua itu sirnah ketika mendengar mereka berbicara menggunakan bahasa
Indonesia, yaa meski tidak selancar kita. Bahkan mereka hapal lagu-lagu
kebangsaan Indonesia dan sering mendendangkannya. Wah, thanks God :) meski tinggal di daerah terpencil dan
jauh dari peradaban, bahkan mungkin dilupakan, mereka tetap sadar merekan
adalah warga Indonesia, tinggal di Indonesia, jadi kudu cinta Indonesia .
Masalah berkomunikasi tidak selesai
sampai di situ sih, meski bisa berbahasa Indonesia, seperti yang saya katakana
tadi mereka tidak bisa selancar kita biasa berkomunikasi dengan teman kita. Kita
tidak bisa berbicara panjang-lebar bagai air mengalir. Karena jarang
berkomunikasi dengan orang luar, terkadang apa yang kita bicarakan susah untuk
mereka tangkap. Jadi, jalan terbaik adalah kita menjelaskan dengan perlahan
sampai mereka mengerti. Dan kesabaran pun diuji. Namun itu bukan penghalang
buat kita berhenti kemudian balik ke Jogja, kan ? Akh, pokoknya mereka bisa
berbahasa Indonesia ajah saya sangat bersyukur.
![]() |
| Marthen dan Makon |
Salam, Pejuang Bintuni



2 komentar:
Omiiiii tulisanmu menguak kerinduanku.
*nangis rindu*
ahaaha, aku jugak kalo buka blog trus baca2 ttg KKN jadi kangeennn merekaa aaaaaa
Posting Komentar