berfoto bareng Gayus dan Makon sebelum meninggalkan Kampung Yakati.. aakkkhhh, kakak kangenn kaliaannn..

Kamis, 05 September 2013

" joget rege "

gelapp... iyaa gelapp.. hape gue jelek sih jadi gini hasilnya.. hahaa
nggak usah diperhatiin videonya, dengerin suaranya ajaa, haha lo kate mp3 :D



" Kebersamaan Kami bersama Mereka "

ada hape, pulsa banyak, tapi nggak ada sinyal...
yaaahh, foto-foto en merekamlah kegiatan paling menyenangkan saat itu :D

video ini gue ambil saat hari terakhir kami mengajar di YPK Sion Yakati..
sedihhh karena besok kami sudah nggak mengajar mereka..

apa kabar yaa kalian, Nak ?
yang rajin belajarnya, semoga kalian sukses kelak :)

" Ayok Bermain SB "

cuma iseng sih gue ngambil video ini, nggak begitu jelas emang.. wong ngerekamnya pakek hape maxtron antik gue sih, hahaa
merekam setiap kegiatan mereka itu memang hal paling menyenangkan bwt gue..


" Perkenalan "




" Laguku "

ini adalah salah satu lagu kebanggaan dari anak-anak di Kampung Yakati..
oiaa video ini diambil saat kami latihan paduan suara dalam rangka menyambut "Bupati" hahaa





" Pagi Pertama "




Kamis, 01 Agustus 2013

KKN-ku_Suling Bambu



Acara tiup suling bambu ini biasanya dimainkan setelah Ibadah Minggu selesai..

Selasa, 02 Juli 2013

"Pilah-pilih.. Pilah-pilih"

Cobalah lihat dari sisi aku, agar kau pahami..
coba kau dengar jerit hati kecil ini..
cobalah ntuk' mengerti, sedikit saja..

"Mi, ayok makan nih mama udah masak ikan."
"Ikan apa, Ma ?"
"Ikan Lele, Nak"
"Akh, Mama ini lho udah tahu Omi ngak suka makan ikan lele masih aja dimasak, lele kan jorok , Ma'."
....
*Pulang sekolah*
"Mi' makan dulu sana tadi mama masak ayam sama sayur kangkung."
"Asiik, ayamnya dimasak apa, Ma' ?"
"Digoreng crispy."
"Yaaahhhh, mamaa... kan Omi maunya dibakar Ma'."
"Nggak sempat mama kalo dibakar, Nak.."
"Huh, yaudah deh Omi beli makan aja Ma'.. mau nyari ayam bakar."


yap.. guys, dulu gw orangnya pemilih banget kalo soal makanan..
kalo nggak suka ato lagi nggak pengen makan itu, yaaa bakal gw abaikan tuh makanan..
angkuh banget yaa gw.. hahaa
gw seringkali lupa untuk bersyukur karena masih ada makanan yang bisa gw makan..
gw nggak peduli bagaimana  sesuap makanan itu diperoleh..
gw lupa kalo diluar sana ada begitu banyak orang,  untuk makan aja mereka bingung bukan karena bingung memilih makanan, tetapi bingung karena nggak ada makanan yang bisa dimakan..
untuk sesuap nasi yang ada digenggaman tangan mereka bagaikan menemukan setumpuk berlian..
sementara gw ? gw yang masih bisa makan sampe perut meletup sering banget suka-suka sama makanan, sering menghambur-hamburkan makanan, buang-buang duit untuk membeli makanan yang mahal padahal ada yang harganya 10x lipat lebih murah.. boroossss !!
akhh.. kalo ingat itu semua gw jadi menyesal banget guys.. kemana kata-kata "Bersyukurlah senantiasa" yang sering gw saranin ke orang lain sementara gw sendiri nggak pernah mensyukuri barka-berkat yang sudah gw terima.

huh hah..
empat tahun terakhir ini telah bnayk ngerubah hidup dan sikap angkuh gw..

Jogjakarta
yeahh, jogjakarta adalah salah satu kota yang telah merubah gw..
gw yang dulu alergi (dibuat-buat sendiri) banget sama lele sekarang jadi doyan banget makan ikan lele, hahaa
awalnya gw makan lele di jogja karena hampir semua warung makan di jogja menunya ikan lele, entah itu yang digoreng biasa, crispy, bakar, bumbu kuning.. pokoknya semua jenis masakan lele :D
waktu itu menu yang lain pada habis, yang ada cuma lele bakar.. yaakkk dengan terpaksa gw makan lele deh, perut udah ngajak berantem soalnya.. hahaa
sesuap dua suap tiga suap... sampai ludes.. ternyata enaakkk, hahaa rasanya seperti ikan lainnya cuma baunya masih menusuk..
trus lalapan.. emak gw kan wong sunda sejati tuh.. jadi tiap makan yang namanya lalapan tuh wajib hukumnya -___-" sampe Amang (Paman) gw pernah bilang,"Mamamu mah, Nom' dilepas dihutan masih bisa idup.. banyak lalapan disana." hahaa gw mah boro-boro.. say no to "lalapan" hahaa
nah ! ternyata di jogja ini lalapan adalah kawan sejatinya penyetan.. entah itu ikan maupun ayam pasti si lalapan setia banget nemenin.. mulai rada penasaran nih (padahal udah sering ngeliat emak gw ngemil lalapan jg) gw nyoba sedikit.. sedikit... karena keseringan jadi doyan deh.. hahaha kena karma deh gw.. jadi skrg kalo makan penyetan tanpa lalapan bagaikan lagu tanpa melodi.. tssaaaahhh.. jadi ingat kata-kata Teteh (Kakak) gw,"Sekarang emang kamu belum doyan makan lalapan, tunggu suatu saat pasti nyariin terus, darah sundanya belum keliatan aja.. Teteh jg dulu gitu kok."
masalah boros ? "Besar pasak daripada tiang." hahaa itu sudah menjadi gaya hidup gw, guys..
gw sering banget ngeluarin duit untuk sesuatu untuk kepuasan sesaat, nggak ngeliat isi kantong dulu.. beli barang yang nggak penting-penting banget.. duit datang langsung cuusss belanja.. trus duit ludes dalam sekejap... menyesalll... tapi itu terus berlanjut sampai sekarang.. yaaahhh tapi sekarang gw nggak seekstrim dulu sih kalo belanja, sekarang udah bisa mikir panjang kalo mw beli sesuatu.. efek kuliah matematika jadi lebih perhitungan sekarang.. hahhaaa
oia, orang-orang disekililing juga sangat mempengaruhi keadaan keuangan lho guys..
mungkin awalnya kita bilang,"kan tergantung kita, mau ikutan boros ato tetep bertahan sama prinsip kita."
No, nggak semudah itu guys, gw ngalaminnya sendiri,niat hemat tinggallah niat saja :D
perlahan gw jadi boros, lebih boros dari gw biasanya, bahkan lebih boros dari temen-temen gw.. hahaa
tapi gw bukannya anti berteman sama siapa saja, yang paling penting itu "pandai-pandailah menolak ajakan yang menggiurkan tapi tak sesuai kemampuan" tentunya tanpa menyinggung orang yang mengajak karena bagaimanapun mereka udah punya niat ngajakin kita, hohoo
lebih bagus lagi kalo loe bisa ngajak si kaya dan si boros jadi si hemat kayak loe :D

Kampung Yakati
Selain Jogja, ada satu lagi tempat yang membuat gw jadi lebih menikmati dan mensyukuri hidup.
Yeah, itu adalah tempat gw KKN, Kampung Yakati, Papua Barat (masih ingat cerita KKN gw diblog sebelumnya).

Kisah ini wajib banget dibaca bwt loe-loe yang hidupnya setipe ama gw yang hobinya mw makan aja pilah-pilih, nggak mw kalo bukan makanan kesukaan, gengsi makan ditempat murah, dan sejenisnya..

Loe kudu tw bagaimana orang-orang di sana berjuang untuk menyambung hidup..
Para orang uta bangun pagi-pagi buta, berangkat mencari penyambung hidup.. mama-mama menuju sekitaran jetty (dermaga kecil) untuk mulai menokok sagu.. papa-papa mendayung perahunya menuju hutan sagu untuk menebang sagu dan kemudian diangkut ke pinggiran sekitar jetty, sebagian juga ada yang ke hutan untuk berburu rusa, babi, maupun hewan lain yang bisa dijadikan lauk.. anak-anak beramai-ramai menuju darat (tempat sumber air berada) untuk mandi kemudian berangkat sekolah (tapi ada anak yang bukannya sekolah melainkan ikut menokok ato berburu, bukan karena keinginan mereka tapi keharusan membantu orang-tua)..
yeaahhh, begitulah kegiatan mereka sehari-hari..

bersambung..


Rabu, 12 Juni 2013

Minggu, 05 Mei 2013

' Mengapa Harus Berdoa? '




' Apakah Anda Tuhan '

Suatu hari pada musim dingin, seorang anak jalanan kedinginan di pinggir jalan.
Anak itu sedang berjalan tanpa sepatu.
Seorang wanita yang melihatnya merasa kasihan, lalu menghampirinya.
Anak tersebut dibawa ke toko sepatu dan dibelikan sepatu yang sesuai.

"Baiklah, sekarang kau bisa pulang ke rumahmu," kata wanita itu.

Anak itu menatap wanita tersebut, lalu bertanya, 
"Apakah Anda adalah Tuhan seperti yang sering diceritakan orang-orang?"

"Bukan, Nak. Saya hanyalah salah satu anak-Nya ...," wanita itu menjawab dengan tersenyum.

Anak itupun balik tersenyum, lalu berkata, "Benar 'kan dugaan saya, Anda pasti memiliki hubungan keluarga dengan-Nya!"


"Saya memberi bukan karena saya berkelebihan, tetapi karena saya tahu persis bagaimana rasanya hidup berkekurangan."


- Mee -

Senin, 11 Februari 2013

" Kembalikan !!! "

Ketika keletihan menghujammu
Ketika amarah menguasaimu
Ketika kesabaran tak lagi setia padamu
ingin menyerah, cukup sampai disini
ingin kuhempaskan semuanya
hingga tak ada cela untuk mereka lagi !!

aaaaa....
tidak.. tidak.. TIDAK !!!

jangan pernah melakukan itu, Nao ^-^
S E M A N G A T !!!
jangan pernah menyerah, hadapilah..



 yeaahhh..
Rebut kembali semangat itu, Nao :)
 karena semua itu tak akan pernah sia-sia..
apa yang menggerogotimu saat ini adalah sebuah proses yang memang kudu kamu hadapi..

DON'T GIVE UP !!

Rabu, 23 Januari 2013

KKN-ku (Yakati-Bintuni, Papua Barat): Perpustakaan Kami..


Perpustakaan berada di dalam ruang kelas VI
   Di sekolah YPK Sion Yakati ini terdapat sebuah perpustakaan yang berada satu ruang dengan kelas VI, hanya dipisahkan dinding. Kondisinya tidak bisa dikatakan bagus. Ruangannya sangat kecil, didalamnya hanya terdapat sebuah lemari bobrok yang berisi beberapa buku tua, dua buah meja tanpa kursi, terdapat dua buah jendela yang penuh dengan debu, dinding yang berhiaskan sarang-sarang serangga. Dan perpustakaan ini selalu terkunci rapat  didepan pintu pepustakaan tertutup oleh lemari, dan kuncinya selalu dipegang oleh guru. Kondisi inilah yang menyebabkan perpustakaan sangat jarang sekali dikunjungi (atau bahkan mungkin tidak pernah dikunjungi dalam setahun terakhir).
Keadaan Perpustakaan sebelum di renovasi
            Salah satu program kerja KKN kami adalah perbaikan fasilitas perpustakaan. Tim KKN kami bekerja sama dengan Book For Montain (BFM) yang memberikan kami sejumlah buku. Dengan bekal buku-buku dari BFM dan poster-poster pendidikan yang kami bawa, kami bersama-sama para siswa membersihkan dan memperindah perpustakaan sehingga perpustakaan ini lebih hidup dan layak dikunjungi. Meskipun hasilnya tidak sebagus perpustakaan di sekolah-sekolah yang ada di kota, harapan kami ini bisa menjadi penambah semangat mereka untuk terus belajar dan pastinya jadi senang membaca agar menjadi anak-anak bangsa yang cerdas :) Terbukti, dua hari sebelum masa KKN habis ada seorang siswa yang tiba-tiba mengaja saya ke perpustakaan dan dia meminjam sebuah buku (meski saya tidak bisa memastikan itu buku nantinya akan dia baca atau tidak tetapi itu sudah merupakan satu kemajuan besar). Perpustakaan yang tadinya hanya hanya ada kami berdua, satu per satu yang lain mulai berdatangan dan kami mulai ngobrol sana-sini di dalam. Senang :). Meski tidak semua meminjam buku, dengan mereka mau mengunjungi perpustakaan saja itu “sesuatu”.

            Salam, Pejuang Bintuni 

KKN-ku (Yakati-Bintuni, Papua Barat): Pendidikan dan Guru ..



           Kegiatan belajar-mengajar di SD-SMP YPK Sion Yakati tidak jauh beda dari sekolah-sekolah pada umumnya. Proses belajar dimulai jam 08.00 sampai jam 11.00 (kelas 1, 2, 3), jam 12.30 (kelas 4,5,6), jam 13.00 (SMP).  Buku-buku yang digunakan juga sudah memenuhi standar kurikulum. Tetapi, mengapa pendidikan di sini masih tertinggal jauh dari sekolah-sekolah pada umumnya? Penyebab utamanya adalah kurangnya tenaga pengajar yang ada.
Di sekolah ini terdapat satu orang Kepala Sekolah, satu orang Guru tetap, tiga orang Guru kontrak, dan satu orang penjaga sekolah. Namun ketika pertama datang ke Yakati, hanya ada sattu orang guru kontrak dan seorang penjaga sekolah. Sementara guru-guru yang lainnya masih ada di Bintuni. Bayangkan, bagaimana bisa satu orang menghandel delapan kelas secara bersamaan? Tetapi itulah kenyataannya. Karena letak kampung yang jauh dari Kota dan susahnya akses menuju ke sana, serta tidak ada hiburan apa-apa (terutama signal, hape hanya bisa digunakan untuk mendengarkan music saja :), tidak ada listrik, tidak ada pasar, mall, hanya ada satu kios kecil (yang dijual tidak lengkap dan harganya setinggi genteng rumah), kegiatan yang monoton, sehingga mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan kota jadi merasa tidak betah tinggal di sini dan lebih memilih berlama-lama di Bintuni.
Para siswa di sekolah ini mempunyai semangat belajar yang tinggi. Namun, yang menjadi kendala adalah sebagian besar dari mereka belum lancar membaca bahkan ada yang belum bisa membaca. Selama KKN saya mendapat tugas membantu mengajar di SMP. Karena saat itu belum ada jadwal mata pelajaran, sebelum mengajar saya bertanya pada mereka ingin belajar apa. Serentak mereka menjawab “matematika”. Dan keesokan harinya saya menanyakan hal yang sama, mereka pun menjawab dengan hal yang sama. Sebagai anak jurusan Metematika, saya boleh dong merasa bangga karena mereka suka matematika, tetapi jika tiap hari mereka hanya belajar matematika apa kata dunia? Apa ini karena mereka tahu saya dari jurusan matematika? Saya jadi penasaran. Hahaa..
Hari berikutnya saya tidak menanyakan hal tersebut kembali. Saya mencoba mengajar Bahasa Indonesia dan mulai terungkap penyebabnya. Ketika saya meminta mereka satu per satu membaca, ternyata masih banyak yang belum lancer membaca bahkan ada satu orang siswa yang tidak bisa membaca. Awalnya saya berpikir “paling Dia malu”. Tetapi setelah saya menanyakan pada seorang Guru, Beliau membenarkan bahwa siswa tersebut memang tidak bisa membaca. Terkejut. Sedih sekali rasanya, seorang siswa SMP tidak bisa membaca. Bagaimana bisa dia lulus SD? Bagaimana bisa dia lulus SD mengerjakan soal-soal ujian kalau membaca saja tidak bisa. 
 
Masalah lainnya lagi, mereka masih menggunakan “tanda titik sebagai pengganti spasi”, terutama untuk siswa-siswa SD. Karena sejak awal mereka diajarkan oleh orang tua atau guru (saya tidak begitu tahu) jadi mereka terbiasa menggunakannya hingga sekarang. Kemudian, karena “pelafalan kata” sehari-hari, banyak dari mereka sering salah dalam membaca dan menuliskan kata-kata tersebut. Mereka juga tidak  bisa membaca kata-kata yang memakai imbuhan –ng. Misalnya “mencangkul” menjadi “mencankul”. Mungkin ini hanya hal kecil akan tetapi jika dibiarkan mereka akan terbiasa seperti itu dan tidak ada perubahan, akan salah terus.

Salam, Pejuang Bintuni

KKN-ku (Yakati-Bintuni, Papua Barat): Sekolah Kami ..



           Di kampung Yakati ini hanya terdapat satu Taman Kanak-kanak (atau PAUD), satu Sekolah Dasar (SD), yaitu SD Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Sion Yakati, satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu SMP YPK Sion Yakati. Diantara kampung-kampung sekitarnya, hanya di kampung Yakati yang terdapat SMP. Belum ada Sekolah Menengah Atas (SMA), jadi mereka yang ingin melanjutkan SMA harus ke Bintuni. Terdapat satu kantor untuk para Guru dan Kepala Sekolah (SD dan SMP gabung jadi satu). Di samping kantor Guru terdapat toilet yang digunakan untuk Guru-guru dan Siswa.

Di SD YPK ini terdapat 50 orang siswa yang terdiri dari 20 siswa kelas I, 6 siswa kelas II, 5 siswa kelas III, 5 siswa kelas IV, 8 siswa kelas V, dan 6 siswa kelas VI. Terdapat lima ruang kelas, kelas I,IV,V, dan VI masing-masing satu kelas, sementara untuk kelas II dan III digabung menjadi satu kelas, alasannya karena jumlah siswa yang sedikit dan tidak ada ruang lain yang kosong. Dan karena keterbatasan ruangan, ruang kelas VI pun digabung dengan perpustakaan (ruangan di dalam ruangan). Kondisi kelas-kelas di SD ini tidak bisa dikatakan bagus. Pintu yang semua kelas tak terkunci karena rusak, lantai yang disemen banyak yang berlubang, lemari rusak dimakan serangga, kursi dan meja banyak yang rusak, langit-langit jebol, dinding yang kotor dan banyak yang jebol, dan kaca jendela yang penuh debu.

Suasana Kelas di SMP
 
Sementara di SMP terdapat sekitar 15 orang siswa, terdiri dari 10 siswa kelas I, 3 siswa kelas II, dan 2 siswa kelas III. Kondisi kelas di SMP lebih baik dibandingkan yang di SD. Awalnya, SMP hanya memiliki 1 ruang kelas jadi kelas I,II,dan II digabung, namun sekarang sudah dibangun 2 kelas baru untuk kelas I dan II. Kelasnya bersih dan rapi, hanya saja terlihat kosong. Di kelas hanya ada sebuah papan tulis, bangku dan meja para siswa, bangku-meja guru, belum ada lemari tempat menyimpan buku (buku-buku yang digunakan di simpan di kantor guru, jadi setiap sebelum memulai pelajaran, mereka harus mengambil dahulu buku yang akan digunakan).
Suasana di kelas : bercanda bersama murid kelas 2 dan 3
Di depan sekolah terdapat lapangan sepak-bola yang di jadikan halaman bermain , tempat upacara bendera, olahraga (senam, kasti, sepak-bola, volley, dll). Lapangan ini juga yang selalu digunakan oleh warga kampung Yakati bermain sepak-bola saat sore hari karena lapangan ini merupakan satu-satunya lapangan yang ada di Yakati. Sekolah ini juga berhadapan dengan rumah dinas Guru dan sumber air. Di sebelah kiri sekolah terdapat pegunungan tempat warga biasa berburu dan berkebun.

Senam Pagi

       Salam, Pejuang Bintuni

KKN-ku (Yakati-Bintuni, Papua Barat): Aku Cinta Indonesia..




Satu hal yang juga membuat saya khawatir adalah masalah bahasa. Saya khawatir bagaimana cara kami berkomunikasi dengan masyarakat disini. Secara mereka tinggal di daerah pedalaman, terpencil, sangat jarang berkomunikasi dan bertatapan dengan orang dari luar, sehari-hari mereka pasti menggunakan bahasa daerah mereka, bagaimana bisa berbahasa Indonesia ? Saya buta sama sekali bahasa papua. Sebelum KKN saya sempat searching di internet bahasa mereka, pada akhirnya yang saya tahu hanyalah kata “ sa = saya, su = sudah, pu = punya” jadi terpikir “bahasa mereka kok cuma diambil dari suku kata depan aja ?” hehee.. Namun semua itu sirnah ketika mendengar mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia, yaa meski tidak selancar kita. Bahkan mereka hapal lagu-lagu kebangsaan Indonesia dan sering mendendangkannya. Wah, thanks God :) meski tinggal di daerah terpencil dan jauh dari peradaban, bahkan mungkin dilupakan, mereka tetap sadar merekan adalah warga Indonesia, tinggal di Indonesia, jadi kudu cinta Indonesia .


Masalah berkomunikasi tidak selesai sampai di situ sih, meski bisa berbahasa Indonesia, seperti yang saya katakana tadi mereka tidak bisa selancar kita biasa berkomunikasi dengan teman kita. Kita tidak bisa berbicara panjang-lebar bagai air mengalir. Karena jarang berkomunikasi dengan orang luar, terkadang apa yang kita bicarakan susah untuk mereka tangkap. Jadi, jalan terbaik adalah kita menjelaskan dengan perlahan sampai mereka mengerti. Dan kesabaran pun diuji. Namun itu bukan penghalang buat kita berhenti kemudian balik ke Jogja, kan ? Akh, pokoknya mereka bisa berbahasa Indonesia ajah saya sangat bersyukur.
Marthen dan Makon

Salam, Pejuang Bintuni


KKN-ku (Yakati-Bintuni, Papua Barat): Makan, Mata Pencaharian..

Menokok Sagu

Mata pencaharian utama masyarakat kampung Yakati adalah menokok sagu, yaitu mengolah batang sagu menjadi tepung sagu sehingga bisa dikonsumsi. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh para Mama dan terkadang anak-anak mereka juga membantu. Mereka mengambil batang sagu  yang tumbuh di pinggiran sepanjang sungai. Kemudian membawanya ke dekat jetty yang memang merupakan tempat pembuatan sagu. Jangan membayangkan pabrik besar dengan peralatan-pearalatan canggih yang terdapat di sana, yang ada hanya kapak, kain, dan sejenis cangkul kecil. Proses pembuatan sagu yaitu, batang sagu dibelah menjadi dua bagian kemudian bagian dalam batang sagu dikeluarkan dengan cara diciduk kecil-kecil menggunakan cangkul mini, seperti menggemburkan tanah. Lalu hasilnya dimasukkan dalam wadah (mereka menggunakan wadah tempurung batang sagu yang sudah dikeluarkan isinya), direndam kemudian diperas dan disaring (menggunakan kain) seperti kita memeras kelapa. Hasil perasannyanya itu kemudian diendapkan selama kurang lebih 24 jam. Maka jadilah tepung sagu. Hasilnya sebagian mereka konsumsi sendiri, sebagian lagi mereka jual ke Bintuni. Bagian yang mau dijual merekan masukkan ke dalam wadah, namanya tuman (anyaman dari daun pohon sagu) dan di hargai sebesar Rp.25.000,- per tuman. Satu batang sagu hanya menghasilkan satu tuman tepung sagu. Sungguh, harga yang tidak sesuai dengan jerih payah mereka mengolahnya.

Proses Penyaringan
Tepung sagu yang sudah jadi kemudian mereka olah menjadi makanan, misalnya kue sagu (adonan tepung sagu dan air yang dibungkus daun kemudian dibakar) dan papeda (adonan tepung sagu yang dicampur dengan air mendidih kemudian langsung diaduk hingga mengental). Papeda ini merupakan makanan khas orang papua. Biasanya dikonsumsi dengan kuah ikan atau kuah sayur. Papeda ini hamper sama dengan makanan khas orang toraja, kapurung, hanya bedanya kalo kapurung adonan yang telah mengental itu kemudian digulung kecil-kecil hingga mudah untuk dimakan dan selain menggunakan kuah dan sayur, ditambah pula dengan sambal teri. Masyarakat di kampung ini juga tidak menyukai makanan yang pedas. Mereka lebih suka makanan yang manis. Mereka menyebut cabe sebagai “rica”.

Papeda
Selain menokok sagu, berburu juga merupakan mata pencaharian masyarakat kampung Yakati. Letak kampung yang juga dikelilingi oleh hutan dan pegunungan memudahkan  mereka untuk mencari hewan buruan. Hewan yang sering menjadi sasaran mereka adalah rusa dan babi hutan, namun tidak menutup kemungkinan hewan lainnya pun menjadi sasaran. Hahaa.. kegiatan berburu ini dilakukan oleh para lelaki dengan membawa anjing-anjing peliharaan mereka. Dan hasil berburu ini selain untuk dikonsumsi sendiri, juga mereka jual. Terutama daging rusa. Sebelum dijual, rusa hasil buruan ini mereka olah terlebih dahulu menjadi dendeng rusa, yaitu dengan cara diasap. Tujuannya agar daging rusa bisa tahan lama. Karena tidak setiap hari mereka mendapat buruan rusa, jadi dendeng rusa yang sudah jadi dikumpulkan sedikit demi sedikit kemudian setelah terkumpul lumayan banyak baru mereka jual ke Bintuni.
Hari pertama : melihat para mama menokok, adek-adek berenang dan dilanjutin dengan memancing hehee

Buah Merah
Salah satu hasil alam yang khas dari Papua adalah buah merah. Tidak bisa dipungkiri, melihat buah ini secara langsung menjadi salah satu tujuan saya ke Papua . Ada salah satu warga di kampung ini yang menanam buah merah, namun karena lokasi kebun yang tidak memungkinkan untuk saya datangi (diatas pegunungan) akhirnya gagal melihatnya. Sedih :(. Dan memang, ketika ketika KKN disana bukan merupakan musim buah merah jadi sangat bahkan tidak ada dijual di toko-toko. Tambah sedih :(


Salam, Pejuang Bintuni