Kegiatan belajar-mengajar di SD-SMP YPK Sion Yakati tidak jauh beda dari sekolah-sekolah pada umumnya. Proses belajar dimulai jam 08.00 sampai jam 11.00 (kelas 1, 2, 3), jam 12.30 (kelas 4,5,6), jam 13.00 (SMP). Buku-buku yang digunakan juga sudah memenuhi standar kurikulum. Tetapi, mengapa pendidikan di sini masih tertinggal jauh dari sekolah-sekolah pada umumnya? Penyebab utamanya adalah kurangnya tenaga pengajar yang ada.
Di sekolah ini terdapat satu orang
Kepala Sekolah, satu orang Guru tetap, tiga orang Guru kontrak, dan satu orang
penjaga sekolah. Namun ketika pertama datang ke Yakati, hanya ada sattu orang
guru kontrak dan seorang penjaga sekolah. Sementara guru-guru yang lainnya
masih ada di Bintuni. Bayangkan, bagaimana bisa satu orang menghandel delapan kelas secara bersamaan?
Tetapi itulah kenyataannya. Karena letak kampung yang jauh dari Kota dan
susahnya akses menuju ke sana, serta tidak ada hiburan apa-apa (terutama signal, hape hanya bisa digunakan untuk
mendengarkan music saja :), tidak ada listrik, tidak ada pasar, mall, hanya ada satu kios kecil (yang
dijual tidak lengkap dan harganya setinggi genteng rumah), kegiatan yang
monoton, sehingga mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan kota jadi merasa
tidak betah tinggal di sini dan lebih memilih berlama-lama di Bintuni.
Para siswa di sekolah ini mempunyai
semangat belajar yang tinggi. Namun, yang menjadi kendala adalah sebagian besar
dari mereka belum lancar membaca bahkan ada yang belum bisa membaca. Selama KKN
saya mendapat tugas membantu mengajar di SMP. Karena saat itu belum ada jadwal
mata pelajaran, sebelum mengajar saya bertanya pada mereka ingin belajar apa.
Serentak mereka menjawab “matematika”. Dan keesokan harinya saya menanyakan hal
yang sama, mereka pun menjawab dengan hal yang sama. Sebagai anak jurusan
Metematika, saya boleh dong merasa bangga karena mereka suka matematika, tetapi
jika tiap hari mereka hanya belajar matematika apa kata dunia? Apa ini karena
mereka tahu saya dari jurusan matematika? Saya jadi penasaran. Hahaa..
Hari berikutnya saya tidak menanyakan
hal tersebut kembali. Saya mencoba mengajar Bahasa Indonesia dan mulai
terungkap penyebabnya. Ketika saya meminta mereka satu per satu membaca,
ternyata masih banyak yang belum lancer membaca bahkan ada satu orang siswa
yang tidak bisa membaca. Awalnya saya berpikir “paling Dia malu”. Tetapi
setelah saya menanyakan pada seorang Guru, Beliau membenarkan bahwa siswa
tersebut memang tidak bisa membaca. Terkejut. Sedih sekali rasanya, seorang
siswa SMP tidak bisa membaca. Bagaimana bisa dia lulus SD? Bagaimana bisa dia
lulus SD mengerjakan soal-soal ujian kalau membaca saja tidak bisa.
Masalah lainnya lagi, mereka masih
menggunakan “tanda titik sebagai pengganti spasi”, terutama untuk siswa-siswa
SD. Karena sejak awal mereka diajarkan oleh orang tua atau guru (saya tidak
begitu tahu) jadi mereka terbiasa menggunakannya hingga sekarang. Kemudian,
karena “pelafalan kata” sehari-hari, banyak dari mereka sering salah dalam
membaca dan menuliskan kata-kata tersebut. Mereka juga tidak bisa membaca kata-kata yang memakai imbuhan
–ng. Misalnya “mencangkul” menjadi “mencankul”. Mungkin ini hanya hal kecil
akan tetapi jika dibiarkan mereka akan terbiasa seperti itu dan tidak ada
perubahan, akan salah terus.
Salam, Pejuang Bintuni


Tidak ada komentar:
Posting Komentar