berfoto bareng Gayus dan Makon sebelum meninggalkan Kampung Yakati.. aakkkhhh, kakak kangenn kaliaannn..

Rabu, 23 Januari 2013

KKN-ku (Yakati-Bintuni, Papua Barat): Pendidikan dan Guru ..



           Kegiatan belajar-mengajar di SD-SMP YPK Sion Yakati tidak jauh beda dari sekolah-sekolah pada umumnya. Proses belajar dimulai jam 08.00 sampai jam 11.00 (kelas 1, 2, 3), jam 12.30 (kelas 4,5,6), jam 13.00 (SMP).  Buku-buku yang digunakan juga sudah memenuhi standar kurikulum. Tetapi, mengapa pendidikan di sini masih tertinggal jauh dari sekolah-sekolah pada umumnya? Penyebab utamanya adalah kurangnya tenaga pengajar yang ada.
Di sekolah ini terdapat satu orang Kepala Sekolah, satu orang Guru tetap, tiga orang Guru kontrak, dan satu orang penjaga sekolah. Namun ketika pertama datang ke Yakati, hanya ada sattu orang guru kontrak dan seorang penjaga sekolah. Sementara guru-guru yang lainnya masih ada di Bintuni. Bayangkan, bagaimana bisa satu orang menghandel delapan kelas secara bersamaan? Tetapi itulah kenyataannya. Karena letak kampung yang jauh dari Kota dan susahnya akses menuju ke sana, serta tidak ada hiburan apa-apa (terutama signal, hape hanya bisa digunakan untuk mendengarkan music saja :), tidak ada listrik, tidak ada pasar, mall, hanya ada satu kios kecil (yang dijual tidak lengkap dan harganya setinggi genteng rumah), kegiatan yang monoton, sehingga mereka yang sudah terbiasa dengan kehidupan kota jadi merasa tidak betah tinggal di sini dan lebih memilih berlama-lama di Bintuni.
Para siswa di sekolah ini mempunyai semangat belajar yang tinggi. Namun, yang menjadi kendala adalah sebagian besar dari mereka belum lancar membaca bahkan ada yang belum bisa membaca. Selama KKN saya mendapat tugas membantu mengajar di SMP. Karena saat itu belum ada jadwal mata pelajaran, sebelum mengajar saya bertanya pada mereka ingin belajar apa. Serentak mereka menjawab “matematika”. Dan keesokan harinya saya menanyakan hal yang sama, mereka pun menjawab dengan hal yang sama. Sebagai anak jurusan Metematika, saya boleh dong merasa bangga karena mereka suka matematika, tetapi jika tiap hari mereka hanya belajar matematika apa kata dunia? Apa ini karena mereka tahu saya dari jurusan matematika? Saya jadi penasaran. Hahaa..
Hari berikutnya saya tidak menanyakan hal tersebut kembali. Saya mencoba mengajar Bahasa Indonesia dan mulai terungkap penyebabnya. Ketika saya meminta mereka satu per satu membaca, ternyata masih banyak yang belum lancer membaca bahkan ada satu orang siswa yang tidak bisa membaca. Awalnya saya berpikir “paling Dia malu”. Tetapi setelah saya menanyakan pada seorang Guru, Beliau membenarkan bahwa siswa tersebut memang tidak bisa membaca. Terkejut. Sedih sekali rasanya, seorang siswa SMP tidak bisa membaca. Bagaimana bisa dia lulus SD? Bagaimana bisa dia lulus SD mengerjakan soal-soal ujian kalau membaca saja tidak bisa. 
 
Masalah lainnya lagi, mereka masih menggunakan “tanda titik sebagai pengganti spasi”, terutama untuk siswa-siswa SD. Karena sejak awal mereka diajarkan oleh orang tua atau guru (saya tidak begitu tahu) jadi mereka terbiasa menggunakannya hingga sekarang. Kemudian, karena “pelafalan kata” sehari-hari, banyak dari mereka sering salah dalam membaca dan menuliskan kata-kata tersebut. Mereka juga tidak  bisa membaca kata-kata yang memakai imbuhan –ng. Misalnya “mencangkul” menjadi “mencankul”. Mungkin ini hanya hal kecil akan tetapi jika dibiarkan mereka akan terbiasa seperti itu dan tidak ada perubahan, akan salah terus.

Salam, Pejuang Bintuni

Tidak ada komentar: