![]() |
| Menokok Sagu |
Mata pencaharian
utama masyarakat kampung Yakati adalah menokok sagu, yaitu mengolah batang sagu
menjadi tepung sagu sehingga bisa dikonsumsi. Pekerjaan ini biasanya dilakukan
oleh para Mama dan terkadang anak-anak mereka juga membantu. Mereka mengambil
batang sagu yang tumbuh di pinggiran
sepanjang sungai. Kemudian membawanya ke dekat jetty yang memang merupakan
tempat pembuatan sagu. Jangan membayangkan pabrik besar dengan
peralatan-pearalatan canggih yang terdapat di sana, yang ada hanya kapak, kain,
dan sejenis cangkul kecil. Proses pembuatan sagu yaitu, batang sagu dibelah
menjadi dua bagian kemudian bagian dalam batang sagu dikeluarkan dengan cara
diciduk kecil-kecil menggunakan cangkul mini, seperti menggemburkan tanah. Lalu
hasilnya dimasukkan dalam wadah (mereka menggunakan wadah tempurung batang sagu
yang sudah dikeluarkan isinya), direndam kemudian diperas dan disaring
(menggunakan kain) seperti kita memeras kelapa. Hasil perasannyanya itu
kemudian diendapkan selama kurang lebih 24 jam. Maka jadilah tepung sagu.
Hasilnya sebagian mereka konsumsi sendiri, sebagian lagi mereka jual ke
Bintuni. Bagian yang mau dijual merekan masukkan ke dalam wadah, namanya tuman (anyaman dari daun pohon
sagu) dan di hargai sebesar Rp.25.000,- per tuman.
Satu batang sagu hanya menghasilkan satu tuman tepung sagu. Sungguh, harga yang
tidak sesuai dengan jerih payah mereka mengolahnya.
![]() |
| Proses Penyaringan |
Tepung sagu yang sudah jadi kemudian
mereka olah menjadi makanan, misalnya kue sagu (adonan tepung sagu dan air yang
dibungkus daun kemudian dibakar) dan papeda
(adonan tepung sagu yang dicampur dengan air mendidih kemudian langsung diaduk
hingga mengental). Papeda ini
merupakan makanan khas orang papua. Biasanya dikonsumsi dengan kuah ikan atau
kuah sayur. Papeda ini hamper sama dengan makanan khas orang toraja, kapurung, hanya bedanya kalo
kapurung adonan yang telah mengental itu kemudian digulung kecil-kecil hingga
mudah untuk dimakan dan selain menggunakan kuah dan sayur, ditambah pula dengan
sambal teri. Masyarakat di kampung ini juga tidak menyukai makanan yang pedas.
Mereka lebih suka makanan yang manis. Mereka menyebut cabe sebagai “rica”.
![]() |
| Papeda |
Selain menokok sagu, berburu juga
merupakan mata pencaharian masyarakat kampung Yakati. Letak kampung yang juga
dikelilingi oleh hutan dan pegunungan memudahkan mereka untuk mencari hewan buruan. Hewan yang
sering menjadi sasaran mereka adalah rusa dan babi hutan, namun tidak menutup
kemungkinan hewan lainnya pun menjadi sasaran. Hahaa.. kegiatan berburu ini
dilakukan oleh para lelaki dengan membawa anjing-anjing peliharaan mereka. Dan
hasil berburu ini selain untuk dikonsumsi sendiri, juga mereka jual. Terutama
daging rusa. Sebelum dijual, rusa hasil buruan ini mereka olah terlebih dahulu
menjadi dendeng rusa, yaitu dengan cara diasap. Tujuannya agar daging rusa bisa
tahan lama. Karena tidak setiap hari mereka mendapat buruan rusa, jadi dendeng
rusa yang sudah jadi dikumpulkan sedikit demi sedikit kemudian setelah
terkumpul lumayan banyak baru mereka jual ke Bintuni.
Hari pertama : melihat para mama menokok, adek-adek berenang dan dilanjutin dengan memancing hehee
![]() |
| Buah Merah |
Salah satu hasil alam yang khas dari
Papua adalah buah merah. Tidak bisa dipungkiri, melihat buah ini secara
langsung menjadi salah satu tujuan saya ke Papua .
Ada salah satu warga di kampung ini yang menanam buah merah, namun karena
lokasi kebun yang tidak memungkinkan untuk saya datangi (diatas pegunungan)
akhirnya gagal melihatnya. Sedih :(. Dan memang, ketika ketika KKN disana
bukan merupakan musim buah merah jadi sangat bahkan tidak ada dijual di
toko-toko. Tambah sedih :(
Salam, Pejuang Bintuni





Tidak ada komentar:
Posting Komentar