berfoto bareng Gayus dan Makon sebelum meninggalkan Kampung Yakati.. aakkkhhh, kakak kangenn kaliaannn..

Rabu, 23 Januari 2013

KKN-ku (Yakati-Bintuni, Papua Barat): Makan, Mata Pencaharian..

Menokok Sagu

Mata pencaharian utama masyarakat kampung Yakati adalah menokok sagu, yaitu mengolah batang sagu menjadi tepung sagu sehingga bisa dikonsumsi. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh para Mama dan terkadang anak-anak mereka juga membantu. Mereka mengambil batang sagu  yang tumbuh di pinggiran sepanjang sungai. Kemudian membawanya ke dekat jetty yang memang merupakan tempat pembuatan sagu. Jangan membayangkan pabrik besar dengan peralatan-pearalatan canggih yang terdapat di sana, yang ada hanya kapak, kain, dan sejenis cangkul kecil. Proses pembuatan sagu yaitu, batang sagu dibelah menjadi dua bagian kemudian bagian dalam batang sagu dikeluarkan dengan cara diciduk kecil-kecil menggunakan cangkul mini, seperti menggemburkan tanah. Lalu hasilnya dimasukkan dalam wadah (mereka menggunakan wadah tempurung batang sagu yang sudah dikeluarkan isinya), direndam kemudian diperas dan disaring (menggunakan kain) seperti kita memeras kelapa. Hasil perasannyanya itu kemudian diendapkan selama kurang lebih 24 jam. Maka jadilah tepung sagu. Hasilnya sebagian mereka konsumsi sendiri, sebagian lagi mereka jual ke Bintuni. Bagian yang mau dijual merekan masukkan ke dalam wadah, namanya tuman (anyaman dari daun pohon sagu) dan di hargai sebesar Rp.25.000,- per tuman. Satu batang sagu hanya menghasilkan satu tuman tepung sagu. Sungguh, harga yang tidak sesuai dengan jerih payah mereka mengolahnya.

Proses Penyaringan
Tepung sagu yang sudah jadi kemudian mereka olah menjadi makanan, misalnya kue sagu (adonan tepung sagu dan air yang dibungkus daun kemudian dibakar) dan papeda (adonan tepung sagu yang dicampur dengan air mendidih kemudian langsung diaduk hingga mengental). Papeda ini merupakan makanan khas orang papua. Biasanya dikonsumsi dengan kuah ikan atau kuah sayur. Papeda ini hamper sama dengan makanan khas orang toraja, kapurung, hanya bedanya kalo kapurung adonan yang telah mengental itu kemudian digulung kecil-kecil hingga mudah untuk dimakan dan selain menggunakan kuah dan sayur, ditambah pula dengan sambal teri. Masyarakat di kampung ini juga tidak menyukai makanan yang pedas. Mereka lebih suka makanan yang manis. Mereka menyebut cabe sebagai “rica”.

Papeda
Selain menokok sagu, berburu juga merupakan mata pencaharian masyarakat kampung Yakati. Letak kampung yang juga dikelilingi oleh hutan dan pegunungan memudahkan  mereka untuk mencari hewan buruan. Hewan yang sering menjadi sasaran mereka adalah rusa dan babi hutan, namun tidak menutup kemungkinan hewan lainnya pun menjadi sasaran. Hahaa.. kegiatan berburu ini dilakukan oleh para lelaki dengan membawa anjing-anjing peliharaan mereka. Dan hasil berburu ini selain untuk dikonsumsi sendiri, juga mereka jual. Terutama daging rusa. Sebelum dijual, rusa hasil buruan ini mereka olah terlebih dahulu menjadi dendeng rusa, yaitu dengan cara diasap. Tujuannya agar daging rusa bisa tahan lama. Karena tidak setiap hari mereka mendapat buruan rusa, jadi dendeng rusa yang sudah jadi dikumpulkan sedikit demi sedikit kemudian setelah terkumpul lumayan banyak baru mereka jual ke Bintuni.
Hari pertama : melihat para mama menokok, adek-adek berenang dan dilanjutin dengan memancing hehee

Buah Merah
Salah satu hasil alam yang khas dari Papua adalah buah merah. Tidak bisa dipungkiri, melihat buah ini secara langsung menjadi salah satu tujuan saya ke Papua . Ada salah satu warga di kampung ini yang menanam buah merah, namun karena lokasi kebun yang tidak memungkinkan untuk saya datangi (diatas pegunungan) akhirnya gagal melihatnya. Sedih :(. Dan memang, ketika ketika KKN disana bukan merupakan musim buah merah jadi sangat bahkan tidak ada dijual di toko-toko. Tambah sedih :(


Salam, Pejuang Bintuni

Tidak ada komentar: