Kelompok
suku asli Papua ada sekitar 255 suku, salah satunya adalah suku Wamesa. Masyarakat
di kampung Yakati merupakan suku Wamesa.
Dan dari 10.219 jumlah penduduk papua yang bersuku Wamesa, sekitar 290 jiwa
yang tinggal di kampung Yakati ini yang terdiri dari 6 marga, yaitu Masumbau,
Manibui, Kambunandiwan, Maboro, Susumbokop, dan Katiri. Mereka merupakan marga asli
kampung ini.
Fasilitas-fasilitas umum yang ada di kampung ini adalah Gereja (masyarakat kampung Yakati ini 100% beragama Kristen Protestan, itulah sebabnya rumah ibadat yang ada hanya gereja), dua sabua’ (bangunan beratap tanpa dinding yang biasanya dipakai warga untuk berkumpul), sekolah, sumber air (satu-satunya sumber air yang ada di kampung ini, airnya digunakan untuk air minum, mandi, mencuci, dan kagiatan-kegiatan lainnya yang menggunakan air J), dua WC umum (sebenarnya masih bisa dibilang layak pakai tetapi karena sangat jarang digunakan jadi terlihat kotor dan berbau tak sedap), sebuah lapangan sepak bola yang kalau setiap sore selalu ramai oleh pemuda-pemuda yang hobby bersepak-bola, balai desa (sangat jarang digunakan karena mungkin letaknya yang kurang strategis dari rumah-rumah warga).
Jalan-jalan di kampung ini belum ada
yang diaspal, hanya sebagian jalan utama saja yang di semen, ada juga yang
masih bebatuan. Belum lagi jalanan sepanjang kampung ini sering kali ditemukan
kotoran anjing karena semua warga di sini pasti memiliki anjing (bahkan lebih
dari satu) dan hewan-hewan itu dibuarkan berkeliaran bebas.
Di kampung Yakati belum ada listrik PLN,
mereka masih menggunakan jenset pribadi. Untuk menghidupkan jenset memerlukan
bensin. Bayangin aja berapa anyak bensin yang mereka habiskan setiap malam
hanya untuk penerangan. Jika kehabisan bensin maka rumah-rumah di kampung ini
akan menjadi lautan hitam. Menurut informasi yang kami dengar, di kampung ini
sudah pernah ada program PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Namun, karena
kurangnya pengetahuan akan hal ini, program ini sekarang tidak berjalan lagi
bahkan alat-alat penunjang PLTS rusak dan akhirnya mereka jual. Satu
pembelajaran buat kita, jangan memberikan sesuatu kepada orang lain secara
instan jika ingin mereka berkembang. Perlu ada penyuluhan, bimbingan dan
pengawasan untuk itu. Untuk itulah, PLTS menjadi salah satu program kerja KKN
kami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar