berfoto bareng Gayus dan Makon sebelum meninggalkan Kampung Yakati.. aakkkhhh, kakak kangenn kaliaannn..

Rabu, 23 Januari 2013

Yakati, Kampung Kami..


Kelompok suku asli Papua ada sekitar 255 suku, salah satunya adalah suku Wamesa. Masyarakat di  kampung Yakati merupakan suku Wamesa. Dan dari 10.219 jumlah penduduk papua yang bersuku Wamesa, sekitar 290 jiwa yang tinggal di kampung Yakati ini yang terdiri dari 6 marga, yaitu Masumbau, Manibui, Kambunandiwan, Maboro, Susumbokop, dan Katiri. Mereka merupakan marga asli kampung ini.

Fasilitas-fasilitas umum yang ada di kampung ini adalah Gereja (masyarakat kampung Yakati ini 100% beragama Kristen Protestan, itulah sebabnya rumah ibadat yang ada hanya gereja), dua sabua’ (bangunan beratap tanpa dinding yang biasanya dipakai warga untuk berkumpul), sekolah, sumber air (satu-satunya sumber air yang ada di kampung ini, airnya digunakan untuk air minum, mandi, mencuci, dan kagiatan-kegiatan lainnya yang menggunakan air J), dua  WC umum (sebenarnya masih bisa dibilang layak pakai tetapi karena  sangat jarang digunakan jadi terlihat kotor dan berbau tak sedap), sebuah lapangan sepak bola yang kalau setiap sore selalu ramai oleh pemuda-pemuda yang hobby bersepak-bola, balai desa (sangat jarang digunakan karena mungkin letaknya yang kurang strategis dari rumah-rumah warga).
Jalan-jalan di kampung ini belum ada yang diaspal, hanya sebagian jalan utama saja yang di semen, ada juga yang masih bebatuan. Belum lagi jalanan sepanjang kampung ini sering kali ditemukan kotoran anjing karena semua warga di sini pasti memiliki anjing (bahkan lebih dari satu) dan hewan-hewan itu dibuarkan berkeliaran bebas.
Di kampung Yakati belum ada listrik PLN, mereka masih menggunakan jenset pribadi. Untuk menghidupkan jenset memerlukan bensin. Bayangin aja berapa anyak bensin yang mereka habiskan setiap malam hanya untuk penerangan. Jika kehabisan bensin maka rumah-rumah di kampung ini akan menjadi lautan hitam. Menurut informasi yang kami dengar, di kampung ini sudah pernah ada program PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Namun, karena kurangnya pengetahuan akan hal ini, program ini sekarang tidak berjalan lagi bahkan alat-alat penunjang PLTS rusak dan akhirnya mereka jual. Satu pembelajaran buat kita, jangan memberikan sesuatu kepada orang lain secara instan jika ingin mereka berkembang. Perlu ada penyuluhan, bimbingan dan pengawasan untuk itu. Untuk itulah, PLTS menjadi salah satu program kerja KKN kami.

Tidak ada komentar: